Apa Itu Tantrum, Penyebab, Jenis, dan Cara Mengatasinya dengan Bijak

Apa Itu Tantrum, Penyebab, Jenis, dan Cara Mengatasinya dengan Bijak
Apa Itu Tantrum, Penyebab, Jenis, dan Cara Mengatasinya dengan Bijak

Tantrum Drama Kehidupan Kecil yang Menggemaskan dan Kadang Melelahkan

Bayangkan ini, Anda sedang santai di mall, menikmati segelas kopi favorit, lalu tiba-tiba...

"WAAAAAA!"

Seorang anak kecil berguling-guling di lantai, menjerit-jerit, tangannya menghentak-hentak udara, kakinya menendang-nendang tanpa tujuan.

Orang tuanya mencoba menenangkan, tetapi yang terjadi malah semakin heboh.

Suara tangisan makin kencang, perhatian pengunjung tertuju ke arah mereka, dan suasana pun berubah jadi penuh drama.

Selamat datang di dunia tantrum! Sebuah episode penuh emosi yang bisa membuat orang tua garuk-garuk kepala dan anak-anak menjadi bintang utama dalam "sinetron" kehidupan.

Apa Itu Tantrum?

Tantrum adalah ledakan emosi yang terjadi pada anak-anak, biasanya ditandai dengan menangis histeris, berteriak, menendang, memukul, bahkan berguling di lantai.

Fenomena ini biasanya terjadi pada anak usia 1 hingga 4 tahun, saat mereka mulai memahami keinginan mereka tetapi belum memiliki keterampilan komunikasi yang cukup untuk mengungkapkannya dengan kata-kata.

Singkatnya, tantrum adalah "protes" anak ketika merasa frustrasi, lelah, lapar, atau tidak mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan.

Kadang-kadang, ini juga bisa jadi cara mereka menguji batas kesabaran orang tua.

Kenapa Anak Bisa Tantrum?

Tantrum bukan sekadar adegan dramatis yang muncul tanpa alasan. Ada beberapa faktor yang bisa memicunya:

1. Kesulitan Berkomunikasi

Anak kecil masih dalam tahap belajar berbicara. Saat mereka ingin sesuatu tetapi tidak bisa menyampaikannya dengan jelas, rasa frustrasi muncul dan...
BOOM! Tantrum terjadi.

2. Lapar atau Lelah

Orang dewasa saja bisa uring-uringan kalau lapar, apalagi anak kecil! Kondisi fisik yang tidak nyaman bisa membuat mereka lebih mudah marah dan meledak.

3. Mengeksplorasi Batasan

Anak-anak adalah "ilmuwan kecil" yang senang bereksperimen.

Mereka mencoba memahami sampai sejauh mana mereka bisa mempengaruhi dunia di sekitarnya, termasuk bagaimana orang tua merespons kemarahan mereka.

4. Mencari Perhatian

Jika anak merasa diabaikan atau kurang mendapatkan perhatian, tantrum bisa menjadi "senjata" ampuh untuk menarik perhatian orang tua atau orang di sekitarnya.

5. Ketidakmampuan Mengelola Emosi

Anak-anak belum bisa mengelola emosi mereka dengan baik. Ketika mereka kecewa, marah, atau sedih, semuanya langsung keluar dalam bentuk ekspresi yang heboh.

Jenis-Jenis Tantrum

Tidak semua tantrum itu sama.
Ada beberapa "varian" tantrum yang bisa terjadi pada anak-anak:

1. Tantrum Manipulatif

Ini terjadi ketika anak mencoba mendapatkan sesuatu dengan cara menangis, berteriak, atau berguling-guling di lantai.

Biasanya terjadi jika mereka tidak mendapatkan mainan, permen, atau hal lain yang mereka inginkan.

2. Tantrum Frustrasi

Tantrum ini muncul karena anak merasa kesulitan melakukan sesuatu, seperti tidak bisa membuka kotak makanan atau gagal menyusun balok sesuai keinginannya.

3. Tantrum Lelah atau Lapar

Ini terjadi karena kondisi fisik yang tidak mendukung. Solusinya? Tidur atau makan!

4. Tantrum Overstimulasi

Terlalu banyak suara, cahaya, atau aktivitas bisa membuat anak kewalahan, dan akhirnya meledak dalam bentuk tantrum.

Bagaimana Cara Menghadapi Tantrum?

Menghadapi tantrum butuh strategi khusus. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan:

1. Tetap Tenang

Jangan ikut-ikutan panik atau marah. Anak akan makin "naik level" kalau melihat orang tuanya kehilangan kendali.

2. Abaikan Tantrum yang Manipulatif

Jika anak menangis hanya untuk mendapatkan sesuatu, jangan langsung menyerah. Jika Anda selalu memenuhi permintaan mereka, mereka akan belajar bahwa tantrum adalah "senjata ampuh".

3. Berikan Pelukan

Kadang-kadang, anak hanya butuh dipeluk agar merasa lebih tenang dan aman.

4. Ajak Bicara dengan Lembut

Setelah anak mulai tenang, ajak bicara. Tanyakan apa yang membuatnya marah dan bantu mereka menemukan cara lain untuk mengekspresikan emosi.

5. Beri Pilihan

Misalnya, jika anak menangis karena tidak mau tidur siang, berikan pilihan: "Mau tidur sekarang atau lima menit lagi?" Dengan begitu, mereka merasa lebih punya kendali.

6. Hindari Pemicu Tantrum

Jika Anda tahu anak mudah tantrum karena lapar, pastikan mereka makan tepat waktu. Jika mereka gampang tantrum karena lelah, atur waktu istirahat yang cukup.

Apakah Tantrum Bisa Berbahaya?

Sebagian besar tantrum adalah bagian normal dari tumbuh kembang anak.

Namun, jika tantrum terlalu sering atau terlalu ekstrem, bisa jadi ada masalah lain yang perlu diperiksa, seperti gangguan sensorik atau masalah emosional tertentu.

Tanda-tanda bahwa tantrum perlu diwaspadai:

  • Tantrum berlangsung sangat lama (lebih dari 30 menit)
  • Anak melukai dirinya sendiri atau orang lain saat tantrum
  • Terjadi hampir setiap hari tanpa alasan jelas
Jika itu terjadi, ada baiknya berkonsultasi dengan dokter atau psikolog anak.

Kesimpulan

Tantrum mungkin membuat orang tua lelah, tapi sebenarnya ini adalah bagian normal dari perkembangan anak.

Ini adalah cara mereka belajar mengenali emosi dan mengatasi frustrasi.

Dengan pendekatan yang tepat seperti tetap tenang, memberikan pilihan, dan menghindari pemicu tantrum, orang tua bisa membantu anak mengelola emosinya dengan lebih baik.

Jadi, lain kali kalau melihat anak tantrum di tempat umum, ingatlah: ini bukan kiamat. Ini hanya episode kecil dalam serial panjang kehidupan mereka.

Dan siapa tahu, mungkin suatu hari nanti, kita akan merindukan hari-hari ketika mereka masih kecil dan menggemaskan (meski kadang bikin pusing).




Posting Komentar untuk "Apa Itu Tantrum, Penyebab, Jenis, dan Cara Mengatasinya dengan Bijak"